arrow_upward

Kuliah Di STIE Surakarta, Tanpa Skripsi Dan 3,5 Tahun Lulus

Rabu, 12 Mei 2021 : 05:47

SOLO-Tidak perlu lama-lama kuliah untuk mendapatkan gelar sarjana (S1). STIE Surakarta, kata wakil Ketua I bidang akademi Ginanjar Rahmawan, menjamin mahasiswa lulus dalam waktu 3,5 tahun bahkan tanpa harus skripsi.

"Harapan orang tua menguliahkan anak itu agar cepat lulus supaya cepat bekerja. Kami mencoba mewujudkan harapan orang tua dan anak-anaknya yang kuliah di STIE Surakarta," kata dia.

Hal itu dikatakan di sela Marketing Talk bertajuk “Membangun City Branding : Tinjauan Praktis dan Akademis”, Selasa (11/5). Acara yang digelar di The Sunan Hotel itu dalam rangkaian ulang tahun STIE Surakarta ke-28.

Lebih lanjut, Ginanjar mengatakan, dengan kurikulum yang kini diterapkan dan kuliah sistem paket, maka sangat memungkinkan mahasiswa lulus dalam 3,5 tahun. Dan sebagai ganti skripsi, para mahasiswa diminta membuat business plan, melakukan penelitian atau karya ilmiah yang terpublikasi di jurnal nasional maupun internasional.

Meski kuliah cepat tanpa skripsi dan biaya murah yakni sekitar Rp 400.000 per bulan, tapi tidak mengurangi kualitas lulusan. "Gebrakan kami ini cukup berani dan mendapat sambutan baik oleh masyarakat luas," kata Ginanjar.

Sementara dalam paparannya, Ginanjar yang juga dosen marketing menyajikan beberapa hasil penelitian internasional berkaitan dengan city branding. Menurut dia, membangun city branding bisa menggunakan pendekatan CBI atau City Branding Index. Meliputi presencen, place, potential, people, pulsem dan prerequisire.

"Dengan pendekatan heksagonal ini, diharapkan sebuah kota mampu memiliki branding yang baik di komunitas internasional," kata pria berkacamata itu.

Pembicara lain, general manager The Sunan Hotel Solo Retno Wulandari, sekaligus President Indonesia Marketing Association (IMA)Chapter Solo mengatakan, city branding dibutuhkan oleh sebuah kota agar memiliki keunikan tertentu di mata masyarakat, sehingga kota itu memiliki keunggulan dibanding kota yang lain.

"Kota itu ibarat sebuah produk, butuh dipasarkan, butuh positioning, butuh pembeda, agar besar dan kuat," kata dia yang baru saja ditetapkan sebagai ketua badan promosi pariwisata kota Surakarta itu.(LG)