Begitu kata William Ardiyanto, direktur PT Tuye Maris, selaku pengembang perumahan Marison Regency di Desa Rejosari Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar, Jumat (12/3), ketika menerima CSR dari Bank Tabungan Negara (BTN) cabang Solo.
"Karena itu, perumahan yang saya bangun harus kokoh dan kuat. Jangan sampai saat ditempati ada atap yang bocor dan ada dinding yang ambrol. Bukankah biasanya orang membeli rumah itu untuk ditempati selamanya. Karena itu, jangan mengecewakan konsumen. Jadi, bisnis properti itu juga harus menggunakan hati," tandas dia.
Meski rumah subsidi, namun menurut Ardiyanto, pembangunan perumahan Marison Regency di Gondanrejo Karanganyar maupun perumahan lain yang dia bangun menggunakan mini tiang pancang, sehingga akan makin memperkokoh atau memperkuat bangunan. Dinding menggunakan batu bata dan gentingnya memakai genting cor.
Bentuk rumah minimalis dan milenial sehingga banyak pasangan muda dan anak muda yang suko, cocok, terus membeli. "Mungkin baru kami yang melakukan, membangun perumahan subsidi menggunakan tiang pancang," katanya.
Selain menyediakan rumah bagi masyarakat, terutama MBR, Ardiyanto mengaku, pembangunan perumahan yang dilakukan di sejumlah tempat bertujuan untuk membuka kawasan. Ia mencontohkan, Desa Rejosari Kecamatan Gondangrejo ini bisa dikatakan sebelumnya sedikit "terisolir", sepi. Namun sekarang setelah ada perumahan, dinamikannya jadi lebih hidup.
Kawasan jadi makin terbuka, banyak warga tinggal disitu, banyak pula yang berjualan dan melakukan aktifitas ekonomi lainnya. "Salah satu tujuan pembangunan perumahan adalah membantu pemerintah daerah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi," kata dia.
Sudah ada tujuh lokasi perumahan Morison Regency di berbagai daerah, baik perumahan subsidi maupun nonsubsidi. Yakni, Solo, Yogyakarta, Magelang, Jepara, Gunung Kidul, Madiun, dan Sumedang. "Tahun ini target kita membangun di lima lokasi lagi di lima wilayah," pungkas Ardiyanto.
Branch manager BTN Solo Doni Rinaldo mengapresiasi Morison Regency dalam membangun perumahan. Cepatnya tingkat hunian perumahan yang dibangun menunjukkan profesionalisme dan keseriusan Marison dalam berbisnis properti.
"Strategi membangun dan cara penjualan Morison bisa ditiru pengembang lain dalam berbisnis properti," ungkap Doni di lokasi perumahan.
Dalam kesempatan itu, Doni siap bekerja sama dengan pengembang mana pun di Soloraya yang banyak jumlahnya. Baik untuk penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) bagi konsumen, kredit yasa guna (KYG) atau kredit konstruksi bagi pengembang. "Tahun ini target BTN Solo menyalurkan pembiayaan senilai Rp 450 miliar untuk KPR," katanya.(LG)




