ADA "Soto Jenderal" di Griyane Mbah Wongso. Menu itu sengaja dibikin dan disajikan untuk menarik pengunjung di resto dan tempat wisata yang berlokasi di Sapen, Desa Triyagan Kecamatan Mojolaban Sukoharjo tersebut.
"Sebenarnya Soto Jenderal itu soto bening, seperti halnya soto pada umumnya. Namun soto ini ditambah rempah dan bumbu lain, sehingga rasanya beda dan lebih uenak," kata Tri Sunu, chef di Griyane Mbah Wongso.
Kenapa dinamakan Soto Jenderal? Yulianti Eko Marhaeni, pemililik Griyane Mbah Wongso mengatakan, salah satu chef, yaitu chef Sunu, semula bekerja di tempat Jenderal (Purn) Wiranto. Setiap beliau minta soto, yang membuatkan chef itu. Sekarang dia bergabung di sini dan membuat soto yang rasanya sama yang disajikan kepada Jenderal Wiranto.
"Makanya disebut Soto Jenderal," kata Heni ketika memberi penjelasan pada sejumlah wartawan di sela grand opening, Rabu (23/12). Pembukaan tampak meriah karena pengelola menghadirkan dua penyanyi lawas, yakni Ratih Purwasih dan Endang S Taurina.
Soto Jenderal hanyalah salah satu menu di tempat itu. Menu lain yang menjadi unggulan adalah nasi goreng Mbah Wongso, aneka masakan bebek pedas, dan sajian spesial ayam ingkung Mbah Wongso. Ada pula seafood, Chinese food dan aneka masakan western.
"Pada umumnya, di berbagai resto atau warung makan, sajian ayam utuh itu digoreng, tapi disini dalam bentuk ingkung dan dibacem. Ayamnya pun ayam jowo," jelas Sunu.
Selain sajian menu makan untuk acara keluarga, arisan, pertemuan, rapat, pesta, dan resepsi pernikahan, di Griyane Mbah Wongso juga ada wedangan yang menyediakan berbagai menu seperti angkringan pada umumnya.
Bahkan di situ juga tersedia berbagai bubur dan wedang atau minuman khas. Ada bubur tumpang, bubur opor, dan bubur sambel goreng. Untuk minuman khas, ada wedang saroba, wedang awang awang, dan wedange Mbah Wongso.
"Wis, pokoknya di sini komplit. Siang hari bisa menggelar acara atau berwisata karena ada kolam renang dan berbagai arena permainan anak, malam hari bisa wedangan bersama keluarga dan teman-teman sambil menikmati indahnya malam di pedesaan," kata Heni, begitu dia akrab disapa.
Meski berharap bisa menjaring banyak tamu, namun dia tetap memperhatikan protokol kesehatan. Setidaknya itu terlihat dari peralatan yang disiapkan dan penataan tempat. Pembukaan resto dan tempat wisata dalam situasi pandemi covid-19 itu juga untuk menampung masyarakat sekitar yang tidak bekerja dan terkena PHK.
"Setidaknya ada sekitar seratus orang dari masyarakat sekitar yang bekerja di sini," katanya.(eL)




