BAGI sebagian besar masyarakat, wisata merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan dan ditunggu-tunggu. Bahkan mereka jauh-jauh hari sudah merencanakan secara khusus terutama pada musim-musim liburan. Dengan berwisata akan membuat pikiran segar kembali, lebih mengakrabkan hubungan sosial baik dengan keluarga, kerabat dan kolega, dan tentu saja juga akan mendapat pengalaman-pengalaman seru yang tidak terlupakan. Saat ini dukungan sarana dan prasarana dari pemerintah dan pelaku-pelaku usaha pariwisata semakin berkembang sehingga memudahkan melakukan perjalanan wisata bagi wisatawan.
Melakukan perjalanan wisata sudah menjadi life style, tidak hanya bagi kalangan kelas tertentu, namun sudah menjangkau setiap lapisan masyarakat. Perbedaan yang terjadi biasanya terletak pada tujuan atau destinasi wisata. Upper class lebih memilih destinasi yang high cost misalnya jalan-jalan ke luar negeri. Middle class memilih intercity atau sering ke pulau lain misalnya Bali. Sedangkan lower class cenderung memilih destinasi domestik dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Kini wisata adalah kebutuhan bagi siapapun, baik itu orang tua, remaja, maupun anak-anak dari semua lapisan masyarakat.
Pariwisata memiliki potensi yang sangat besar dan pemerintah telah menetapkan pariwista sebagai leading sector. Menteri Pariwisata juga menetapkan sektor pariwisata sebagai core economy Indonesia. Di periode 2014 hingga 2019 pemerintah sudah melakukan pembangunan infrastruktur secara cepat untuk mendukung 10 destinasi pariwisata prioritas. Pada 2020 diharapkan sektor pariwisata ini akan menjadi sektor prioritas utama dalam perolehan devisa. Pengembangan sektor pariwisata disamping berdampak pada pertumbuhan ekonomi, juga diharapkan memberikan kontribusi pada pemberdayaan sumber daya manusia dan budaya yang memungkinkan pelestarian kebudayaan masyarakat itu sendiri.
Tulisan ini sangat terkait dengan studi sosiologi pariwisata atau tinjauan pariwisata dari sudut pandang sosiologi. Untuk itu terlebih dahulu kita harus mengingat tentang objek studi utama sosiologi. Obyek studi utama sosiologi adalah struktur masyarakat, lembaga sosial, kelompok sosial, hubungan-hubungan timbal balik individu, status dan peranan dan beberapa hal lain yang terkait. Kegiatan kepariwisataan apabila kita amati merupakan kegiatan yang melibatkan orang, sekelompok orang, lembaga, dan interaksi sosial beserta dinamikanya yang dilakukan untuk mencapai atau memenuhi kepentingan kegiatan kepariwisataan.
Menurut Prof. Dr. R.B. Soemanto, M.A., sosiologi pariwisata secara umum dapat disebutkan sebagai studi tentang individu dan masyarakat, organisasi dan lembaga sosial yang berhubungan dengan layanan kebutuhan perjalanan wisata bagi wisatawan dan kegiatan kepariwisataan. Dari pemahaman tersebut, jelaslah bahwa kegiatan pariwisata akan memberikan dampak bagi masyarakat, khususnya masyarakat setempat dan masyarakat umum lainnya secara lebih luas. Untuk itu kegiatan pariwisata yang dikembangkan hendaknya mempertimbangkan kondisi sosiokultural di masyarakat, dalam hal ini hal yang tidak boleh diabaikan adalah kearifan lokal masyarakat.
Kearifan lokal bukanlah sesuatu yang baru, karena kehadirannya bersamaan dengan terbentuknya masyarakat. Kearifal lokal sering juga disebut pengetahuan setempat “local knowledge”. Istilah lain yang sering disandingkan adalah kebijakan setempat “local wisdom” atau kecerdasan setempat “local genius”. Istilah kearifan lokal atau local genius pertama kali diperkenalkan oleh Quaritch Wales (Rosidi, 2011). Quaritch Wales menjelaskan bahwa local genius atau kearifan lokal berarti kemampuan budaya setempat dalam menghadapi pengaruh kebudayaan asing pada waktu kedua kebudayaan itu berhubungan. Sedangkan menurut UU No.32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat antara lain melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari.
Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa kearifan lokal sangat berkaitan dengan nilai-nilai atau pandangan hidup juga pengetahuan masyarakat dalam upayanya memecahkan berbagai permasalahan kehidupan mereka yang diwujudkan dalam aktivitas keseharian.
Pembangunan pariwisata, seperti halnya pembangunan pada umumnya akan berdampak di berbagai bidang kehidupan. Dampak secara ekonomi misalnya, diharapkan pembangunan pariwisata akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat karena semakin terbukanya kesempatan kerja dan peluang berusaha. Pada gilirannya akan meningkatkan penerimaan pajak dan keuntungan keuntungan secara ekonomi lainnya. Dampak lain yang sangat penting dan harus diperhatikan adalah dampak sosial.
Karena pariwisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat, tentu saja hal ini akan membawa berbagai dampak terhadap masyarakat lokal secara langsung pula. Untuk itu masyarakat lokal perlu lebih dilibatkan dalam pengambilan keputusan atau kebijakan-kebijakan pembangunan pariwisata, merekalah yang paling terdampak jangka pendek maupun untuk jangka waktu yang lebih panjang.
Pemikiran David C Korten yang dikenal dengan konsep people-centred development sangat relevan dijadikan acuan. Pemberdayaan masyarakat pada hakekatnya memusatkan pada partisipasi dan kemampuan masyarakat lokal. Karena pembangunan sesungguhnya adalah memanusiakan manusia. Untuk itu, pembangunan pariwisata berbasis kearifan lokal merupakan hal yang sangat strategis. (Endang Kusumastuti, Guru Sosiologi SMAN 1 Mertoyudan Magelang)



