arrow_upward

Ngopi, Tak Sekedar Minum Kopi

Selasa, 03 November 2020 : 15:23


BUDAYA ngopi atau minum kopi, sudah lama menjadi trend di masyarakat luas, khususnya anak muda. Tidak hanya bagi pecinta kopi yang tahu berbagai jenis dan cita rasa kopi, namun masyarakat awam pun kini juga ikut-ikutan minum kopi bareng-bareng.

Dalam perjalanannya, ngopi tidak hanya sekedar minum untuk melepas dahaga atau menikmati racun kafein yang pahit, tapi juga sebagai ajang nongkrong. Baik sekedar berkumpul dengan handai taulan, untuk berbagi, atau bahkan kini juga sebagai sarana lobi.

Maka, tak ayal kalau belakangan ini kedai kopi tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Mulai dari model angkringan dengan tenda di pinggir jalan, di hotel-hotel, hingga kedai khusus kopi dengan fasilitas mewah dan wah. "Saya melihat, di Jalan Ahmad Yani, Manahan Solo ini belum ada kedai kopi besar dan represntatif," kata Reza Mahendra, manajer kedai Kopi Lawe, saat launching, Senin (2/11) malam.

Bersama tiga koleganya, Reza membuka kedai Kopi Lawe yang lokasinya tidak jauh dari Terminal Tirtonadi Solo. Kedai itu merupakan waralaba dari kedai Kopi Lawe yang berada di kawasan Laweyan Solo, di seputar kampung batik. Sadar akan tingginya kompetisi akan kedai kopi, Reza mengoptimalkan sumber daya yang ada dalam berpromosi dan berjualan.

Yakni, mengoptimalkan media sosial yang ada seperti instagram, facebook, tweeter, maupun group whatsapp. Pengelola dan pekerja juga melakukan pendekatan pada sejumlah komunitas anak muda di Solo, seperti komunitas sepeda dan motor gede atau moge. Bahkan jaringan  para crew di situ juga dioptimalkan.

"Kami buka jam delapan pagi hingga jam duabelas malam. Kenapa pagi, karena kami ingin menjaring komunitas sepeda yang jumlahnya makin banyak," katanya.

Selain menjaring berbagai komunitas, untuk meramaikan kunjungan orang ke kedai, pihak pengelola menggelar live music serta berbagai acara seremonial, party dan diskusi. "Selain kopi dengan berbagai jenis dan cita rasa, kami juga menyediakan burger," pungkasnya.(eL)