ADA kegelisahan pada diri seniman muda yang tergabung di kelompok teater Ruang Hening, terkait makin pudarnya bahasa atau seni bertutur di masyarakat yang kini tergantikan oleh sarana komunikasi yang canggih di era teknologi informasi, seperti terjadi belakangan ini.
Menurut para seniman yang bermarkas di Kabupaten Semarang itu, pudarnya seni bertutur juga mengakibatkan lunturnya budaya "srawung" yang mencerminkan jalinan sosial, kerukunan, kekerabatan serta emosi, dan psikologi di masyarakat, yang menyebabkan mereka mudah memberi maaf pada sesama yang khilaf.
Nah, berangkat dari kegelisahan itu, para seniman tersebut menampilkan wayang dongeng kancil bertajuk "Kancil Gugat". Yaitu sebuah pentas seni yang memadukan wayang kulit dan teater. Pentas yang digelar di Plesungan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar, Kamis (15/10), juga melibatkan anak-anak atau seniman cilik dari Karanganyar, Sukoharjo, Solo, Kabupaten Semarang, dan Bojonegoro.
"Cerita ini banyak mengandung nilai nilai moral, namun cerita kancil gugat ini mungkin
sebuah dongeng yang jarang didengar anak-anak. Dongeng kancil yang lain sering didongengkan orang tua kepada anak-anak sebagai pengantar tidur. Dalam cerita kancil gugat ini banyak sekali watak yang sangat buruk tetapi dalam cerita masih terdapat pesan-pesan akhlak yang tersirat di dalamnya,"kata Prawoto Susilo, pimpinan produksi wayang kancil.
Menurut dia, wayang dongeng kancil dengan lakon "Kancil Gugat" yang disutradarai Ki Sutrisno itu bercerita tentang sosok kancil yang menggugat kahanan, keadaan, atau tatanan yang dinilai sudah banyak berubah, keluar dari pakem, khususnya di massa pandemi covid-19, seperti sekarang ini. Misal, dengan diberlakukannya pembelajaran jarak jauh atau study from home, motivasi anak-anak untuk belajar justru turun, jika tidak mau dikatakan hilang. Anak-anak yang mestinya harus belajar, justru ditinggal bermain.
"Tidak hanya itu, kancil juga menggugat negeri ini yang dinilai belum memberi keadilan pada wong cilik," katanya.
Pentas dongeng wayang kancil yang diback up Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu digelar secara virtual sehingga siapa pun bisa melihat pentas itu dari mana saja secara langsung melalui chanel yang disediakan. Meski virtual, pagelaran itu digarap profesional dengan sound dan tata lampu yang sangat mendukung serta animasi yang bagus sehingga enak ditonton baik live maupun recording.
"Tujuan kami dari pentas ini adalah supaya anak-anak mulai mencintai seni bertutur dan budaya kita sendiri yang adiluhung," pungkasnya.(eL)



