"Lebih baik di sini, rumah kita sendiri, segala nikmat dan anugerah yang kuasa, semuanya ada di sini, rumah kita....." (Rumah Kita, Godbless 1988).
Tiba-tiba saja lagu "Rumah Kita" ciptaan Ian Antono dan Theodore KS kembali masyur, seiring merebaknya virus corona di negeri gemah ripah loh jinawi ini.
Banyak kalangan menyanyikan lagu itu, baik sendiri atau bersama-sama komunitasnya. Lantas di-upload ke sejumlah media sosial. Seperti youtube, instagram, facebook, tweeter, whatsapp, tiktok, dan lainnya. Ada yang viral, ada yang terhenti di tengah jalan.
Adalah Najwa Shihab yang mengawali ajakan menyanyikan lagu "Rumah Kita" secara keroyokan dalam konser di rumah saja, melibatkan para musisi dan penyanyi papan atas.
Belakangan para rektor dari berbagai perguruan tinggi negeri (PTN) bersama sama menyanyikan lagu yang pernah dipopulerkan Godbless tahun 1988 itu.
"Dalam situasi serba sulit seperti sekarang ini karena wabah virus corona, kita harus saling menguatkan dan saling memberi penghiburan," kata Najwa.
Pada sejumlah jurnalis, Ian Antono pernah mengatakan bahwa pesan dari penciptaan lagu "Rumah Kita" itu untuk mengingatkan anak-anak muda pada zaman itu untuk tetap tinggal di rumah sendiri di kampung halaman dan tidak perlu merantau ke kota yang penuh dengan tanya, tanpa tujuan jelas.
Sebab, bagaimana pun tinggal di rumah sendiri, meski sederhana, akan jauh lebih enak dan lebih nyaman dari pada tinggal di perantauan. "Saat itu, saya meninggalkan Malang Jawa Timur dan pergi ke mengadu nasib ke Jakarta," kata gitaris dan pendiri Godbless itu.
Apa yang diungkapkan Ian Antono dalam lagu "Rumah Kita" yang dia ciptakan 30 tahun lalu itu mungkin masih relevan, hingga saat ini.
Kebun dan pekarangan di rumah kita di desa-desa yang menyimpan banyak potensi, potensi pertanian masih butuh sentuhan tangan para generasi muda yang cerdas dan peduli untuk dikembangkan.
Bagaimana tidak? Pohon bambu yang menjadi bilik tempat tinggal kita kini banyak dibutuhkan orang kota untuk bangunan, kerajinan, dan hiasan rumah. Demikian juga alang-alang yang menjadi pagar dan jerami yang menjadi atap rumah, kini juga banyak dibutuhkan untuk kerajinan, selain makanan ternak.
Bunga bakung, anyelir, dan melati yang tumbuh di halaman kini juga banyak dibutuhkan untuk berbagai keperluan juga sangat mudah untuk dibudidayakan. Itu belum termasuk potensi pertanian, peternakan, dan berbagai kekayaan di pekarangan rumah di desa.
Bisa dirasakan. Segala nikmat dan anugerah yang kuasa, semuanya ada di sini.(#)
Penulis : Vladimir Langgeng



