arrow_upward

Jualan Online di Masa Pandemi, Mampukah Bertahan Lama...?

Sabtu, 25 Juli 2020 : 11:09

ORANG yang memulai usaha dagang atau berjualan pada masa pandemi covid-19 sekarang ini tidak seluruhnya korban PHK atau bisnis utamanya bangkrut.

Tapi ada pula yang hanya ikut-ikutan atau memanfaatkan momentum dan situasi, dimana banyak orang yang enggan bergerak dan banyak kedai atau warung makan tutup.

Setidaknya pengalaman itu diungkapkan Fransiska Yona Ervina (41) warga Karanganyar dan MH Qoyim (50) warga Solo.

"Saat itu, ada teman pesan lewat whatsapp minta dibuatkan botok telur asin untuk acara kantor. Beberapa hari sebelumnya, dia juga minta dibuatkan mangut untuk acara yang sama. Kelihatannya, dia cocok dengan masakanku," kata Fransiska.

Nah, karena menikmati keuntungan yang didapat, dari situ, pegawai di salah satu PTS di Solo itu mulai menawarkan berbagai masakannya melalui online ke berbagai group WA, baik itu group kantor, group keluarga, kampung, teman-teman sekolah, dan lainnya.

Masakan-masakan itu juga diunggah di instagram dan facebook. Suami dan anak-anaknya juga ikut memposting di group masing-masing. Biasanya, kalau pesan atau order masakan hari ini, keesokan hari baru dikirim.

Dari berbagai masakan yang ditawarkan, botok telur asin dan mangut semarangan yang banyak dipesan. Masakan lainnya, babat gongso, sambel jambal, tahu bakso kikil, dan kue moci.

"Saat banyak pesanan, pada awal Juni kami mulai memikirkan branding. Nah, nama DAPUR UMUM saya jadikan merek, karena mudah dikenal dan sudah banyak orang yang tahu," katanya.

Fransiska mengatakan, tidak semua orang yang berjualan secara online, terutama makanan (kuliner), bisa bertahan lama, meski pada awalnya banyak pembeli, bahkan sampai kuwalahan.

Itu terjadi lantaran tidak ada repeat order. Menurut dia, kalau ada order ulang, berarti masakan yang dijual bisa diterima, cocok dengan selera.

"Selama ini yang banyak terjadi, pembelian itu karena iba, kasihan, rikuh karena teman sendiri, tidak enak ditawari, ikut-ikutan membeli, dan lainnya. Pembelian bukan karena kebutuhan. Kalau yang terjadi seperti itu dan tidak ada repeat order, bisnis itu kemungkinan tidak bertahan lama," ujarnya.

Pengalaman berbeda dialami MH Qoyim. Dia terjun berjualan online dengan menjual karak karena diajak temannya, produsen karak. "Awalnya sih membantu, karena ternyata yang membeli banyak dan diantaranya repead order, ya terus berlanjut jualan karaknya," kata dia.

Model penjualan online yang dilakukan Qoyim tidak beda dengan lainnya. Update status "karak" di WA, IG, dan FB. Dia juga tidak malu-malu membawa dan menawarkan karak itu ke sejumlah acara.

Banyaknya relasi dan aktif di berbagai organisasi tampaknya cukup membantu dia dalam berjualan. Order tidak hanya di Soloraya, tapi datang dari berbagai daerah.

"Hasilnya sih tidak seberapa, tapi dalam situasi pandemi covid-19 seperti ini dan bisnis periklanan terutama di media cetak sepi, saya kira cukup membantu," pungkasnya.(Vladimir Langgeng)