ITU adalah penggalan lagu Godbless berjudul "Anak Kehidupan" dalam album "Raksasa" yang dirilis 1989. Lagu yang dinyanyikan sang vocalis Achmad Albar itu tidak hanya enak didengar, tapi juga syarat makna.
Kalau disimak lebih dalam, ada kegundahan dari pencipta lagu, Jockie Suryoprayogo dan Sawung Jabo. Kegundahan yang muncul tidak hanya pada seorang anak, masa depan anak. Tapi lebih dari itu, kegundahan pada anak bangsa yang kelak memimpin negara ini.
Nampaknya butuh keseriusan ekstra dalam mendidik dan memahamkan kepedulian sosial kepada anak-anak milenial, kaum kekinian, yang berkembang di era modern dan serba digital seperti sekarang ini.
Sebab, mereka terlahir ketika segala ilmu dan teknologi maju tersedia dan terbuka.
Lantas, langkah apa yang pas di lakukan dalam mensikapi, karena setiap generasi mempunyai dinamika gerak maju dan pertentangan sendiri dalam membuat sejarah. Menurut hemat saya, semestinya kita saling belajar dengan metode semua adalah guru dan murid, sejajar.
Hal itu untuk menyamakan persepsi agar saling paham dan bukan lagi dengan metode memasok doktrin-doktrin kaku.
Artinya, saling merubah pemahaman. Yang muda belajar pemahaman lama, dan sebaliknya, yang tua juga mau belajar pemahaman baru. Ini yang nantinya menunjukkan kwalitas menjadi pencerah-pencerah yang baik dalam mencerahkan.
Sebab, untuk melakukan perubahan segala sesuatu sebaiknya di lakukan bersama dan saling melengkapi. Selain itu juga harus belajar bertoleransi dalam perbedaan. Sebab, ini adalah salah satu faktor penting yang musti dipahami bagi kaum kekinian atau anak-anak milenial.
Ini penting, karena anak milenial kaum kekinian punya potensi untuk bangkit dan berkembang. Kalau kita keliru mendidik anak-anak milenial kaum kekinian ini, maka kelak bangsa ini akan salah arah, karena dipimpin generasi yang keliru.(#)
Penulis : Agus Sugiyarto



